Minggu, 22 Januari 2012

AMBISI DAN CITA-CITA


Ambisi? Cita-cita? Aku pernah mendengarnya. Tapi, tentu saja, kata yang tak asing dan sangat familiar baik di telingaku atau di telinga orang-orang adalah CITA-CITA. Sebenarnya, aku tak tahu apa sebenarnya makna yang tersimpan dari dua kata itu. Tapi, saat ini aku mempunyai definisi tersendiri untuk mengartikannya.
            Cita-cita itu menurutku, emm keinginan kita untuk meneruskan hidup sebelum akhirnya kita terjerumus ke tempat yang melenceng dari apa yang kita inginkan, itu versi ribetnya, versi singkatnya aku artiin keinginan kerja nanti waktu kita udah besar, yang dimaksud ‘besar’ di sini.. mungkin setelah kelas X SMA dan kita mulai memilh jurusan.
            Sedangkan ambisi sendiri aku megartikannya sebagai satu keinginan dalam hidup kita, tanpa faktor lain yang memepengaruhinya.
            Itulah definisi yang kupegang sampai saat ini, dan akan terus kupegang sampai ada yang memberitahuku arti ‘ambisi’ dan ‘cita-cita’ yang sesungguhnya, semoga saja definisiku ini benar.
         Aku juga pernah bercita-cita ingin menjadi Astronot. Aku ingin keluar angkasa, aku ingin ke bulan dan aku ingin melayang di ruang ruang hampa udara itu. Selain jadi Astronot, siapa lagi yang bisa ke bulan?
            Dan rekor terlama cita-cita yang melekat pada diriku adalah, aku ingin jadi Pilot! Ya, Pilot, yang mengemudikan pesawat itu, jangan tanya kenapa, aku ingin mengudara, aku ingin membawa orang-orang ke dalam pesawatku, dan aku ingin mereka mendengar kalau yang mengemudikan pesawat mereka adalah KAPTEN NORMA AYU SETYABUDI. Tapi, entah mengapa, hal itu menguap begitu saja.
            Sekarang  aku sudah SMA, tak bisa lagi cita-citaku berubah-ubah sperti dulu, tentu saja, saat ini aku mempunyai keinginan yang sangat besar, aku ingin menjadi DOSEN MUSIK dan sesuatu yang berhubungan dengan Hubungan Internasional, contohnya, Staff KBRI. Tentu saja kedua-duanya kupilih dengan alasan yang kuyakini.
            Dosen musik, karena aku menyukai musik. Walau aku bukan berasal dari keluarga pemusik tapi aku benar menyukainya. Dengan musik, hidup akan menjadi lebih berwarna.
            Aku juga bercita-cita menjadi menjadi Staff KBRI. Karna aku ingin mengabdikan hiduku juga untuk negaraku tercinta ini, Indonesia. Cita2 itu tiba2 terbersit dalam anganku begitu saja.
            Sekarang ini, aku sedang berusaha mencapai salah satu di antara cita-citaku itu, dengan doa dan usaha, semoga bisa tercapai. Amin.
            Setelah berparagraf-paragraf aku menceritakan tentang cita-citaku, aku ingin membeberkan apa yang menjadi ambisiku.
            Sebenarnya entah sejak kapan, aku ingin sekali mempunyai buku yang di bawahnya tertulis namaku, ya, aku ingin Menulis Buku, kata orang, dalam hidup ini minimal kita harus bisa menulis satu buku, ya! Aku ingin. Aku tahu, butuh kesabaran dan butuh pembelajaran yang tak sebentar untuk menulis buku, tapi, itu ambisiku, tak perduli berapapun umurku, aku harus bisa meluangkan waktu untuk menulis sebuah buku! Dan aku berharap semoga itu bisa tercapai.







Senin, 28 November 2011

28 November 2011

Aku sedih
sedih aku hari ini, sangat....
Tuhan aku sedih
Hanya pada-Mu aku mengeluh Tuhan
Hanya padamu

Kamis, 24 November 2011

Sayang

Sayang...
Dalam detikku aku selalu termenung
Akankah kita menjadi tahmid yang terucap ???
Akankah engkau menjadi ibadahku
Tentu...
Tak ada yang perlu kita sesali
Hanya saja aku belum bisa menengadahkan wajahku
                Kalau saja engkau tahu
                Dalam setiap doa di setiap malamku
                Namamu selalu teriring penuh kasih
                Aku bertelut
Sayang...
Engkau bukan yang haram bagiku
Engkau bukan orbitase kehidupan yang lumrah terjadi
Tapi engkaulah indah dalam pagiku
Engkaulah harum dalam siangku
Bahkan engkaulah segar dalam malamku
                Berkali-kali aku mematung
                Merasakan keraguanmu yang begitu kelam
                Adakah yang tlah mengganti aku ?
                Sudahkah engkau jenuh akan stagnasimu ?




Edelwiss-ku

Pagi, saat kubuka mata dan melihat indahnya dunia pada hari yang cerah ini. Aku mendengar suara tangisan dari sebuah bunga edelwiss kecil begitu mempesona. Pejamkan mata untuk lebih merasakan tangisan itu. Dia butuh air kasih sayang dari sang pemilik air, dia butuh perlindungan dari sang pemilik jagad raya....
“Oh edelwiss malangnya nasibmu kali ini yang benar-benar ditampar oleh sebercik air kegelapan” kataku dalam hati....
Buka mata hati untuk lebih bisa merasakan sakit yang dialami oleh edelwiss. Ketika dedaunan masih menutup mata untuk sang mentari, ketika embun juga belum melepaskan diri dari pelukan sang daun....
Mereka menghakimi edelwiss, mereka menmbuat edelwiss selalu mengeluarkan air mata tanda kematian hatinya, hatinya tercabik-cabik oleh nafsu semata manusia. Dia menatap langit mendung yang menjadi saksi bisu kekejaman manusia....
“Oh langit salahkah aku kalau aku mendapat sebuah senyuman dari dunia” ratapnya pada sang langit....
Edelwiss, bunga keabadian yang selau mengeluarkan air mata kematiannya setiap hari. Merintih kesakitan, karna sedih selalu mencekik tangkainya yang mungil dan sangat rapuh....
Terombang-ambing di gunung yang sangat dingin, diterpa angin kejahatan, diguyur hujan kesedihan, kadang kala juga didatangi badai kegagalan tapi ia tetap berusaha berada dalam tanah, mempertahankan akarnya untuk tidak sampai lepas dari tanah karna edelwiss masih mempunyai senyum kebahagian sang matahari yang selalu terbit setelah hari gelapnya....
Sungguh tak kuasa aku mendengar ratapan edelwiss.... Edelwiss, aku yakin kau masih punyai keyakinan bahwa Sang Maha Pencipta selalu mengawasimu, dan DIA kelak kan membawamu pergi bersama musim yang sebentar lagi  kan berganti..
Oh edelwiss, bunga keabadian....

6 Maret 2011

Selasa, 22 November 2011

Untuk Allah

(* ̄m ̄)  
Aku bersyukur atas hidup yang Engkau anugrahkan Ya Allah. Kehidupan keluarga yang tidak kekurangan (insyaAllah AMIN). Tubuhku juga nggak ada yang kekurangan. Aku punya 2 kaki, 2 tangan, 2 mata, 2 telinga, punya mulut, punya hidung dsb. Aku juga beruntung punya banyak teman, punya banyak sahabat (walau semakin lama semakin enggak tau pada kemana) dan aku juga punya boyfriend sekaligus menjabat jadi sahabatku. Aku beruntung sekali Ya Allah pada-Mu.

(-̩̩̩-͡ ̗--̩̩̩͡ ) 

Walau sekarang aku dapat zonk (harus sekolah di jetis). Tapi tak apalahaku harus tetep semangat buat jalanin ini semua. Allah MAHA Tahu kok yak, kamu harus semangat ya. Kamu nggak boleh sedih yak. Di luar sana banyak orang yang nggak bisa sekolah, kamu harus bersukur bisa sekolah walau harus ke selatan jauhhhhhhhhhh beudddddddddddddd. Sedih rasanya Ya Allah. Aku sedih 


(⌣́_⌣̀) (-̩̩̩-͡ ̗--̩̩̩͡ )